Keran air di kamar mandi kosku punya ritme yang aneh. Tikus. Tikus. Tikus. Bunyinya menyerupai detak jantung orang yang sedang menunggu ajal di bangsal puskesmas, atau mungkin ketukan sepatu pantofel milik dosen paruh baya yang frustrasi karena istrinya berselingkuh dengan tukang rongsokan.
Di pangkuanku, buku bersampul biru milik Tere Liye itu terasa berat seperti sebongkah batu nisan yang dicuri dari pemakaman umum.
“…aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.”
Mataku menolak melompat ke kalimat berikutnya. Retinaku macet pada kata tersenyum. Aku bangkit, menyeret sandal jepitku yang sebelah kirinya sudah tipis hingga membuat jalanku agak miring ke kiri, menyerupai kepiting yang menderita stroke ringan. Aku berdiri di depan cermin lemari pakaian yang tripleksnya sudah melengkung akibat lembap. Aku mencoba memaksakan sebuah senyuman. Kulit pipiku ketarik, sudut bibirku naik, tetapi yang kulihat di cermin bukanlah manusia yang sedang bersyukur, melainkan seekor mamalia darat yang bingung mengapa ia harus menggerakkan otot wajahnya tanpa ada sepotong daging pun yang bisa dikunyah.
“Kau tahu, Supri,” suara Lastri mendadak melesat keluar dari lubang kloset yang pengap, melintasi lorong waktu tiga tahun lalu, lalu hinggap di telingaku seperti lalat hijau gemuk. “Manusia itu seperti biskuit kaleng yang diisi kerupuk. Luarnya mentereng, dalamnya melempem karena tutupnya kurang rapat.”
Lastri selalu bicara begitu sambil mencubiti jerawat di lehernya sampai kulitnya meletup kecil, mengeluarkan cairan putih yang segera ia seka ke sprei kasurku. Aku tidak pernah melarangnya. Sprei itu sudah terlalu banyak menampung sejarah biologis yang kotor, mulai dari tumpahan kuah mi instan, ketombe yang berjatuhan seperti salju busuk, hingga air mata Lastri yang baunya aneh, mirip cuka apel oplosan.
Kami dulu bertemu karena sebuah kecelakaan eksistensial yang sepele. Sepeda motor tua milikku mogok di depan tukang sol sepatu, dan Lastri sedang di sana, menunggu payungnya yang patah dijahit kembali menggunakan benang nilon hitam. Kami tidak saling jatuh cinta. Kami hanya dua orang yang ketakutan setengah mati jika harus pulang ke kamar masing-masing dan mendengarkan suara napas kami sendiri yang terlalu keras di dinding sunyi.
Kini, setelah membaca kutipan dalam buku itu, seolah-olah ada mandat gaib yang turun dari langit-langit kosan yang berjamur. Aku dipaksa berterima kasih. Dipaksa merayakan kepunahan.
Aku berjalan ke meja, mengambil silet cukur yang sudah agak berkarat di bagian pinggirnya. Logam dingin itu berkilat tertimpa cahaya lampu neon 5 watt yang berkedip-kedip seperti lampu disko di lokalisasi kelas teri. Aku tidak ingin memotong urat nadi. Itu terlalu melodramatis, terlalu menyerupai akhir dari sebuah cerita picisan yang ditulis oleh remaja yang kurang piknik.
Aku hanya menggunakan ujung silet itu untuk mencongkel huruf ‘T’ pertama dari nama Lastri yang dulu pernah ia ukir menggunakan paku di permukaan meja kayu ini. Huruf itu terkelupas, menyisakan serbuk kayu cokelat tua dan aroma rayap mati.
Terima kasih, Lastri, pikirku, sambil memasukkan serbuk kayu bekas ukiran namanya itu ke dalam mulutku, lalu menelannya bulat-bulat tanpa air. Serpihan itu menggores tenggorokanku, kering, seratnya menyangkut di pangkal lidah, memberiku rasa tidak nyaman yang sangat nyata. Rasa tidak nyaman yang jauh lebih jujur daripada jutaan kalimat romantis yang dicetak di atas kertas-kertas mahal.
Di luar jendela, duniaku bergerak makin gila. Seorang wanita paruh baya dengan daster robek di bagian ketiak sedang mengejar seekor ayam jago sambil membawa sapu lidi, berteriak-teriak histeris menuntut ayam itu mengembalikan martabatnya yang hilang. Ayam itu terus berlari, melompati genangan air cucian piring yang mengalir lamban di got depan rumah, memancarkan spektrum warna pelangi yang menjijikkan akibat minyak goreng jelantah.
Aku kembali ke kasur, berbaring telentang. Buku Tere Liye itu kujadikan bantal. Rasanya keras, menyiksa leherku hingga urat-uratnya menegang. Tapi di situlah letak keajaibannya. Aku tersenyum secara spektakuler dalam kegelapan yang pekat, menikmati rasa perih di tenggorokanku dan salah urat di leherku. Aku berada di masa itu sekarang. Masa di mana aku tahu, satu-satunya cara terbaik untuk mengingat seseorang yang telah pergi adalah dengan membiarkan sisa-sisanya mengganjal di dalam tubuhmu dan membuatmu sakit secara perlahan.