Saya termasuk barisan manusia yang bersorak paling keras saat Avatar: The Last Airbender Season 2 resmi mendarat di Netflix akhir Juni ini. Sebagai pencinta garis keras petualangan bocah botak pengendali elemen tersebut, saya tidak boleh melewatkan satu episode pun. Namun, di tengah keasyikan menonton Aang melompat ke sana kemari menunggangi Appa, sebuah pikiran absurd mendadak muncul di kepala saya.
Pikiran itu sederhana saja: mengapa nasib Aang mirip sekali dengan nasib guru Sekolah Dasar (SD)?
Coba pikirkan sejenak. Aang harus keliling dunia dan menjelajahi benua demi menguasai empat elemen dasar: air, udara, api, dan tanah. Dia dipaksa jadi manusia paripurna demi menyelamatkan dunia. Nah, nasib guru SD ya sebelas dua belas. Bedanya, elemen yang harus kami taklukkan itu namanya Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, sampai Pendidikan Seni. Kami ini “Avatar” di dunia nyata yang dituntut menguasai segala lini ilmu sejak fajar menyingsing (eaaa).
Enak betul jadi para sejawat kami, yang mengajar di jenjang SMP atau SMA (baca dengan nada iri dengki ya, wekawekaweka). Mereka punya kemewahan bernama spesialisasi. Guru Matematika ya fokus mengajar rumus, tidak perlu pusing memikirkan cara memegang kuas yang benar. Guru Sejarah bisa sibuk membahas masa lalu, tanpa beban moral mengajarkan pembagian pecahan desimal.
Sementara kami, kaum guru kelas di SD, dipaksa jadi manusia genius yang serbatahu. Jam pertama harus menjelma jadi ilmuwan yang menjelaskan metamorfosis katak. Jam berikutnya, mendadak berubah jadi sejarawan yang menghafal tahun Perang Diponegoro. Nah, puncaknya adalah saat mata pelajaran Pendidikan Seni tiba. Di sinilah level deg-degan saya mendadak naik ke tingkat dewa, persis seperti Aang yang sedang melawan Raja Api Ozai di bawah amukan energi Komet Sozin.
Bagaimana tidak, saya akui dengan jujur, darah seni di tubuh saya ini sungguh berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Saya ini ibarat warga sipil biasa di dunia Avatar yang sama sekali tidak punya bakat dalam mengendalikan seni. Rasanya saya butuh diculik Aang sebentar untuk ditransfer energi seni murni lewat jidat dan dada saya.
Akibat tuntutan “menguasai segala elemen” ini, anak-anak didik saya yang tidak berdosa itu terpaksa melukis pemandangan yang itu-itu saja selama puluhan tahun: dua gunung kembar yang di tengah-tengahnya ada matahari nongol malu-malu, lengkap dengan jalan raya lurus membelah sawah di bawahnya. Sebuah mahakarya monoton yang lahir dari keterbatasan sang guru. Belum lagi kalau sesi menyanyi tiba. Suara sumbang saya (yang tingkat kelengkingannya sebelas dua belas dengan teriakan histeris si Penjual Kubis saat dagangannya tak sengaja dihancurkan tim Avatar) ini terpaksa mereka dengarkan dengan penuh ketabahan.
Padahal, seru kali ya kalau sistem pendidikan kita lebih fleksibel. Anak-anak diajar oleh ahlinya sejak dini. Orang tua pun bisa langsung mendeteksi bakat bending si ananda sejak hulu, bukannya baru shock pas kuliah karena si anak ternyata salah ‘jurusan elemen’. Logikanya sederhana: tidak semua anak ditakdirkan jadi Avatar yang harus mengendalikan seluruh elemen alam. Memaksa mereka tahu segalanya malah bikin mereka tidak ahli dalam satu pengendalian pun. Tapi ya sudahlah, kenyataannya sistem kita belum seindah eh, sejalan dengan khayalan itu.
Oleh karena itu, dengan penuh kesadaran, saya harus kembali bersiap. Mengenakan seragam, memegang spidol, lalu kembali berkeliling dari satu meja ke meja lain layaknya Aang yang mengarungi samudera luas.
Bedanya, Aang punya Appa, si bison terbang yang gagah, untuk membantunya menguasai dunia. Sementara saya? Saya hanya punya sepeda motor bebek yang harga bahan bakarnya semakin melambung terbang ke angkasa.
Mari mengendalikan seluruh elemen, demi mencerdaskan bangsa! Fighting!