Melawan Candu 15 Detik

Dulu, musuh terbesar guru saat ujian adalah murid yang saling lirik atau sibuk membuat kapal kertas. Sekarang, musuhnya jauh lebih mengerikan: rasa bosan akut akibat otak yang kecanduan algoritma video 15 detik. Guru dipaksa bertarung dengan layar ponsel yang jauh lebih seksi daripada papan tulis. Para pendidik sering mengeluhkan fenomena penurunan daya juang pada sejumlah anak zaman sekarang, bak kerupuk tersiram kuah soto. Namun, benarkah teknologi tunggal yang layak disalahkan?

Mari tengok fenomena ruang kelas di berbagai penjuru negeri hari ini. Saat ulangan harian, baru saja lembar soal dibagikan, koor keluhan kerap menggema di kalangan pendidik. Isinya? Protes atas teks bacaan sepanjang dua paragraf. Bagi sebagian generasi instan, membaca runtut selama dua menit adalah siksaan abad pertengahan. Mereka menganggap dua paragraf setara novel tebal ratusan halaman.

Tragedi generasi digital ini lebih menggelitik. Sering kali, ujian 40 soal dengan durasi 90 menit bisa selesai dalam waktu 15 menit saja. Tanpa coretan rumus di kertas buram, pena langsung diletakkan. Setelah itu? Mereka melipat tangan, menaruh kepala di meja, lalu tidur pulas sampai bel berbunyi. Ujian bukan lagi proses menguji pemahaman, melainkan ritual “tebak kancing” demi menuntaskan formalitas. Jika soal gagal memunculkan jawaban dalam 5 detik layaknya Google, soal itu dicap tidak layak dipikirkan. Mereka memilih kalah dan tidur ketimbang memeras otak.

Psikologi menyebutnya instant gratification. Kepuasan instan tanpa proses berliku. Gawai telah memanjakan sirkuit otak anak-anak kita. Lapar tinggal klik ojek daring. Hiburan tinggal geser layar. Tugas sekolah tinggal salin-tempel dari AI. Begitu dihadapkan pada realitas sekolah yang menuntut ketekunan menganalisis, sistem pertahanan mental mereka langsung crash. Kecepatan teknologi sukses membunuh seni bersabar dan daya juang (adversity quotient).

Apakah guru harus ikut menyerah lalu tidur di depan kelas? Jelas tidak. Tamparan realitas ini adalah alarm keras. Peran pendidik telah bergeser. Kita bukan lagi sekadar kurir ilmu, sebab untuk urusan itu, mesin pencari dan kecerdasan buatan menyediakan akses yang jauh lebih instan. Tugas “mahaberat” guru hari ini adalah menjadi pelatih fokus, penjaga kewarasan mental, dan pemandu proses. Kita harus menyapih mereka dari candu kecepatan. Dunia nyata tidak pernah bisa ditaklukkan hanya dengan klik 15 menit, lalu tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *