Aku selalu mengira, ketukan jemariku pada layar ponsel
adalah rintik hujan yang kaudoakan untuk menyiram kemarau harimu.
Ternyata aku keliru.
Akulah yang kekeringan.
Akulah sebatang pohon sepi di pinggir jalan,
yang mengemis angin agar daun-daunku tidak mati.
Aku hanya butuh ditenangkan oleh caramu membalas isyaratku.
Sedangkan kau, tak pernah semenit pun menunggu kabarku.
Kau tak peduli apakah langit di duniaku sedang biru atau kelabu.
Sebab di seberang sana, kau adalah pedagang yang terlalu ramah.
Kau tersenyum pada setiap orang yang mampir di tokomu.
Kini aku tahu, kau tidak sedang merawat hatiku yang retak;
kau hanya tidak ingin kehilangan pelanggan setia
yang takut telanjur pergi mencari kedai yang lain.