Siap Jadi Istri Kedua!

Di kalangan sebagian lelaki, Surat An-Nisa ayat 3 seolah menjadi idola baru. Kalimat “fankihu ma thaba lakum minan-nisa’ masna wa tsulatha wa ruba’” dihafal luar kepala, diperlakukan layaknya mantra sakti. Intinya? Boleh punya istri dua, tiga, atau empat. Titik.

Celakanya, banyak yang mendadak “katarak” saat membaca kelanjutannya: “Fa-in khiftum alla ta’dilu fawahidatan.” Jika khawatir tidak bisa adil, maka satu saja! Namun bagian ini sering kali di-skip dengan sengaja, seolah-olah peringatan Tuhan itu hanya catatan kaki yang tak berarti.

Mari kita bedah realitanya. Banyak lelaki yang gairahnya setinggi langit, tapi dompetnya masih di dasar laut. Saya sering gemas melihat fenomena “poligami modal bismillah”. Ada yang untuk bayar SPP anak pertama saja masih meminjam mertua, tapi di grup WhatsApp sibuk bertanya tips mencari istri kedua yang “sholehah dan nerimo”. Ini niatnya ibadah atau sekadar ingin menambah beban negara?

Belum lagi soal “keadilan” yang sering disalahartikan. Adil itu bukan sekadar bagi-bagi hari seperti jadwal ronda, atau jika istri pertama dibelikan daster, istri kedua juga daster. Adil itu mencakup mental, finansial, dan spiritual.

Bayangkan saja, rumah pertama masih mengontrak dan bocor di sana-sini, tapi sudah percaya diri mau membangun “rumah kedua”. Secara finansial kembang-kempis, secara emosi pun masih kekanak-kanakan. Menghadapi istri pertama yang sedang tantrum saja pilih kabur ke kafe, kok bisa-bisanya merasa mampu menengahi dua kepala?

Alasan yang dipakai pun sangat klise: ingin “menolong janda”. Tapi anehnya, yang dilirik selalu janda kembang usia 22 tahun yang masih segar bugar. Sementara janda tua penjual gorengan di ujung jalan malah terabaikan. Ini tulus menolong atau sekadar “nyolong” kesempatan di balik dalih agama?

Saya bukan penentang poligami. Agama saya memperbolehkannya, dan saya tidak berani membantah hukum Tuhan. Tapi saya realistis. Mengurus satu suami yang hobi menaruh handuk basah di atas kasur saja sudah butuh kesabaran seluas samudera.

Jujur saja, saya belum siap punya “rekan kerja” baru di rumah. Bukan cuma soal berbagi hati, tapi saya belum rela jika ada orang lain yang ikut menghabiskan jatah beras di dapur, sementara sang suami kalau tanggal tua masih hobi makan mi instan dicampur nasi.

Judul di atas memang sengaja dibuat menghentak. Sedikit nakal untuk mengundang klik. Namun, sebelum para lelaki yang cicilan motornya masih nunggak itu bersorak kegirangan, izinkan saya menuangkan keresahan ini: perdalam dulu ilmu agamanya, tebalkan dulu saldo rekeningnya, dan yang paling penting, berkacalah. Jika satu amanah saja belum tuntas dijaga, untuk apa menambah tugas yang belum tentu sanggup dipikul?