
Sejak lama aku belajar bahwa diam bukan berarti kalah. Diam adalah cara terbaik untuk menjaga apa yang tersisa dari harga diriku.
Lelaki itu, lelaki yang kubanggakan, dan kuberikan seluruh hatiku padanya, duduk di depanku. Di dinding ruang tamunya, berjajar bingkai-bingkai berisi kertas berstempel emas. Gelar-gelar yang panjang, sepanjang pengalamannya melintasi dunia yang belum pernah kupijak. Dia bicara tentang geopolitik, tentang ekonomi dunia, tentang bagaimana matahari seharusnya terbit dan terbenam menurut teori-teori besar yang ia kuasai.
Dia tidak pernah memanggilku “bodoh”. Tidak satu kali pun. Kata-kata kasar itu terlalu rendah untuk lisan terpelajarnya. Tapi, setiap kali aku mencoba menyelipkan satu kalimat, dia akan memotongnya dengan senyum tipis yang mematikan. Senyum yang seolah berkata: “Dengar, Sayang, biarkan orang yang lebih tahu yang bicara.”
Tatapan matanya saat aku berbicara adalah tatapan seorang guru besar kepada murid taman kanak-kanak yang salah mengeja alfabet. Teduh, lembut, namun membuatku merasa sekecil debu di bawah rak buku mahalnya.
Hari ini, saat dia kembali menjelaskan betapa dangkalnya pandanganku tentang hidup, hanya karena aku lahir sepuluh tahun setelahnya, aku telah memutuskan sesuatu. Aku tidak akan lagi menyiramkan air ke tanah yang sudah membatu. Aku tidak akan lagi memberikan pendapat kepada seseorang yang sudah menutup jendela pikirannya rapat-rapat dari gelas kosong sepertiku.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya kemudian, berpura-pura demokratis setelah tiga puluh menit menceramahiku.
Aku menyesap tehku yang sudah dingin. Rasanya hambar, persis seperti percakapan kami selama ini. Aku menatap matanya, tersenyum paling manis yang pernah kupunya, lalu menggeleng pelan.
“Entahlah. Aku rasa kamu lebih tahu segalanya,” jawabku pelan.
Dia tampak puas. Dia menang lagi. Tapi dia tidak tahu, di saat yang sama, aku baru saja mengunci rapat pintu hatiku untuknya. Selamanya. Karena bagi wanita yang dianggap tak berwawasan, memberikan suara kepada orang yang tak menghargainya adalah sebuah kesia-siaan yang paling nyata.