Sore itu, langit di atas Yogyakarta nampak meremang, meninggalkan semburat jingga yang jatuh di sela-sela pohon sawo kecik di halaman depan. Di ruang tengah, bau dupa sisa sembahyang tadi siang masih lamat-lamat berkelindan dengan aroma tumisan bawang putih dari dapur. Marni, dengan jarik yang masih melilit rapi di pinggangnya, sibuk menata piring-piring porselen bermotif bunga biru, warisan mertuanya yang dijaga seperti nyawa sendiri.

Di luar sana, suara tetangga gaduh membicarakan kedermawanan Den Mas Broto yang baru saja memborong dagangan bakul pasar untuk disedekahkan. Sebuah gestur yang gagah, yang datang sesekali laksana ndaru jatuh dari langit, membuat orang-orang tak henti-hentinya menunduk hormat.
“Namanya juga tamu, Mas. Datangnya jarang, disambutnya pun harus dengan gending paling merdu,” ucap Marni pelan, suaranya tenang sedalam sumur, sambil menyuguhkan segelas teh nasgithel (panas, legi, lan kenthel) di hadapan suaminya.
Suaminya memandangi kepulan uap teh itu. Ia teringat betapa Marni-lah yang setiap pagi tanpa suara membasuh kakinya dengan air hangat ketika asam uratnya kambuh. Marni pula yang matanya meredup karena kurang tidur, terjaga sepanjang malam hanya untuk mengganti kompres di keningnya saat ia menggigil hebat.
Kehadiran Marni terasa begitu organik, menyatu dengan udara dan debu di atas lemari jati, hingga seringkali dianggap sebagai kewajaran yang tak perlu dipuji.
Dalam gerak sunyi jemari Marni yang telaten mengupas kulit bawang, atau merapikan lipatan kain lurik itulah, cinta sedang mewujud.
Di ruang tengah, suaminya menyesap teh nasgithel itu perlahan, menatap punggung Marni yang menjauh ke dapur, dan tiba-tiba merasa ngeri membayangkan rumah ini jika gending sunyi itu suatu saat berhenti berdenting
bukan egois sepertinya tuk berharap panjang umur semua marni yang menghidupkan setiap bangunan yang disebut rumah, supaya redup dan sunyi tak akan pernah terjadi.
Setuju. Karena tanpa ‘Marni’, rumah hanyalah tumpukan bata dan semen. Harapan itu adalah doa agar kehangatan di dunia ini tidak cepat hilang.
Peran wanita
setuju