Peta yang Ditulis di Atas Kertas Basah

Di dalam dada, ada sebuah jam pasir yang retak, namun pasirnya tidak jatuh ke bawah, melainkan meluap hingga ke tenggorokan. Aku berdiri di ambang pintu yang tidak memiliki engsel. Di luar, langit berwarna abu-abu seperti abu rokok yang lupa dibersihkan dari asbak semalam.

Aku ingin melangkah, namun lantai berubah menjadi permukaan danau yang membeku; nampak kokoh, tapi aku tahu persis ada retakan rambut yang siap menjemput kakiku menuju kedalaman yang tak punya dasar.

“Kenapa angin selalu berbisik dalam bahasa yang tidak kumengerti?” tanyaku pada gorden yang meliuk-liuk seperti lidah api yang dingin.

Di pojok kamar, bayangan kursi itu mulai memanjang, menyerupai jari-jari yang ingin meraba lipatan bajuku. Ada dengung yang lahir dari kotak putih di dinding itu, sebuah mesin yang mencoba membekukan waktu namun hanya berhasil menghasilkan deru yang gelisah. Suaranya seperti serombongan lebah yang terjebak dalam botol kaca; mereka tidak ingin keluar, tapi mereka tidak tahu cara untuk diam.

“Kenapa ia harus terus terjaga saat lampu-lampu sudah menyerah pada gelap?” bisikku pada bayang-bayang yang kini mulai memanjat kakiku.

Dengung itu menjadi satu-satunya jembatan antara aku dan dunia yang sedang memejamkan mata. Jika aku mematikannya, sunyi akan datang dengan membawa sebilah pisau yang tak terlihat, siap menguliti lapisan-lapisan pikiranku hingga hanya tersisa tulang-tulang keraguan yang putih dan rapuh.

Aku membenci suaranya, tapi aku lebih takut pada kesunyian yang jujur. Sunyi adalah ruang kosong yang memaksa setiap detak jantungku terdengar seperti ketukan pintu dari orang asing yang menagih janji-janji lama.

Aku adalah surat yang ditulis di atas kertas basah. Huruf-hurufnya luntur sebelum sempat dibaca oleh siapapun, menyisakan noda-noda yang membentuk peta menuju negeri yang tak pernah ada di atlas.

Ada suara keran yang menetes di dapur. Tik. Tik. Tik. Setiap tetesan adalah dentuman meriam di padang yang gersang. Aku ingin memutar keran itu kuat-kuat, tapi jemariku telah berubah menjadi akar yang merambat ke dalam tanah, mencari pegangan pada sesuatu yang sebenarnya sudah lama runtuh.

“Mungkin aku hanyalah percakapan antara dua cermin yang saling berhadapan,” gumamku.

Kosong yang memantulkan kosong, tanpa ada benda nyata di tengahnya. Aku merasa seperti halaman terakhir dalam sebuah buku yang tak sempat selesai dibaca. Ada kalimat yang menggantung, ada titik yang belum diletakkan, dan suara mesin itu adalah cara malam memberitahuku bahwa tidak ada yang benar-benar berhenti berputar.

Di jendela, seekor cicak mematung menatap laron yang berputar-putar di lampu. Aku merasa seperti laron itu; jatuh cinta pada cahaya yang sebenarnya sedang mempersiapkan kematianku.

Aku ingin berhenti berputar, tapi udara di sini terlalu penuh dengan aroma hujan yang tak kunjung jatuh, membuat paru-paruku terasa seperti spons yang dipenuhi kerikil.

“Mungkin aku hanya sebutir debu yang menumpang pada hembusan angin dingin ini,” kataku. Mengambang, tak kunjung mendarat, takut jika menyentuh lantai aku akan pecah menjadi ribuan kepingan pertanyaan yang tak ada jawabnya.

Hari esok sudah berdiri di depan pintu, tanpa wajah, hanya membawa sepasang sepatu yang terlalu besar untuk kupakai. Tirai tersingkap sedikit, menampakkan langit yang pucat.

Aku terus duduk di sini, di antara deru yang menyiksa dan sunyi yang mengancam, menjadi saksi bagi pertarungan antara udara yang membeku dan dadaku yang terus membara oleh hal-hal yang tak kunjung kuucapkan kepada pagi.

Aku hanya bisa duduk, membiarkan tubuhku menjadi ruang tunggu bagi tamu-tamu yang tak pernah memesan tempat.