Mas Daeng Safar.

Di antara denting sendok dan piring yang berkilau,

di bawah lampu gantung yang berusaha keras menjadi mewah,

kita duduk.

Di tempat di mana orang-orang memesan status sosial,

lewat daftar menu yang harganya tak masuk akal,

hanya demi sebuah pengakuan yang fana.

Mereka melihatku dengan sudut mata yang miring,

seolah badai di kepalaku adalah noda di taplak meja mereka yang putih bersih.

Bagiku, waras adalah perjuangan berdarah-darah,

setiap hari aku menjahit kembali ingatan yang robek,

sementara mereka sibuk memilah siapa yang pantas disapa,

dan siapa yang harus dianggap tak ada.

Betapa lucunya dunia ini, Mas Daeng.

Mereka bisa menerima perbedaan warna pakaian,

tapi takut setengah mati pada beda cara kerja pikiran.

Mereka memuja keunikan pada barang belanjaan,

tapi mencaci keanehan pada jiwa yang sedang kesepian.

Namun di sini, di depan piring yang mulai dingin,

aku hanya ingin kau tahu:

bertahan dari riuh di kepalaku jauh lebih hebat,

daripada sekadar pamer kemapanan di tempat ini.

Biarlah mereka dengan dunianya yang seragam,

kita punya cara sendiri untuk tetap tegak,

Bukankah demikian, Mas Daeng?