
Zaman saya sekolah dahulu, jadi murid atau orang tua itu ada rasa “uji nyalinya”. Kalau sampai lupa jadwal seragam atau tugas sekolah, taruhannya cuma dua: malu sampai ke ubun-ubun atau berdiri di lapangan, disinari cahaya Tuhan sembari memandang kagum tiang bendera.
Hasilnya? Anak-anak “zaman old” mau tidak mau, harus mandiri. Kenapa? Karena kami tahu, nanya ke guru itu butuh keberanian tingkat dewa, bukan modal jempol berminyak sambil rebahan dan nonton video lucu. Ada jarak yang bikin kita tahu diri.
Saya masih ingat sekali, dahulu saat saya sakit, orang tua saya bakal sibuk cari kertas, nulis rapi pakai pulpen (kalau bisa tinta emas biar estetik), dimasukin amplop, lalu diantar dengan penuh rasa hormat, sembari menunggangi elang terbang.
Itu bukan cuma surat izin absen, Bos. Itu ritual adab! Ada keringat, ada usaha, dan ada harga diri yang diserahkan dalam amplop. Buat kaum milenial, ini bukan sekadar pamer masa lalu, tapi bukti nyata kalau karakter itu ditempa lewat proses manual yang berdarah-darah, bukan lewat jalan tol digital.
Sekarang? Selamat datang di era lawak! Teknologi makin hari makin genius, tapi adab penggunanya bikin ngelus dada tetangga.
Semua mau serba instan. Izin sekolah tinggal modal ketik di WhatsApp sambil garuk-garuk kaki. Praktis, tapi kepraktisan ini sukses membunuh rasa sungkan sampai ke akar-akarnya. Yang paling bikin geleng-geleng adalah fenomena “amnesia waktu”.
Bayangkan, jam sudah menunjukkan pukul 23.30, waktunya malaikat mencatat amal dan manusia normal ngorok, tiba-tiba HP saya bergetar hebat. Pas dibuka, isinya pertanyaan keramat dari orang tua murid: “Bu, besok pakai seragam apa ya?”
Duh Gusti! Ini Anda mau nanya seragam atau lagi ngidam martabak manis pakai ojek online sih? Kok ya bisa-bisanya ketik pesan begituan tanpa beban moral sedikit pun?
Di sinilah letak komedi paling miris. Generasi usia 35 tahun ke atas, yang beralasan paling matang dan sering menceramahi anak muda tentang sopan santun, justru jadi pelaku utama kemudahan yang kebablasan ini. Betul, guru punya hak penuh untuk cuek dan lanjut tidur. Tapi masalahnya bukan di balasan gurunya, melainkan di isi kepala pelakunya, yang sudah kehilangan urat tahu dirinya.
Hanya karena Anda punya nomor WhatsApp seorang guru, bukan berarti Anda punya akses 24 jam untuk “menggedor pintu kamarnya” tengah malam buta cuma demi urusan sepele yang aslinya bisa ditanyakan ke grup paguyuban atau literasi jadwal yang sudah di-share.
Kalau begini terus, rasanya pengen tukar tambah HP ini dengan ulekan sambal. Kadang rindu zaman pos. Biar kalau ada orang tua mau nanya warna celana untuk besok, mereka harus jalan kaki ke kantor pos, beli prangko, menjilatnya sampai lidah kering, lalu nunggu suratnya sampai seminggu kemudian. Biar apa? Biar mereka mikir seribu kali sebelum nanya hal ajaib, dan sadar kalau adab itu barang mewah yang mahal harganya, tidak semurah kuota internet.
Yok bisa yok, teknologi boleh saja update sampai versi paling mutakhir, tapi tolong lah, adab kita jangan sampai expired lalu jadi bangkai di era digital!