Diksi Murahan bagi Jiwa yang Jelaga

Aku menatap layar gawai itu dengan intensitas seorang peneliti yang sedang mengamati pertumbuhan jamur di tempat lembap. Layarnya yang biru pucat memantulkan wajahku yang sembap, sebuah pemandangan yang sebenarnya cukup menjijikkan bagi diriku sendiri. Di hadapanku, benda logam itu tetap membisu, seolah-olah ia sengaja bersekongkol dengan lelaki itu untuk menguji batas kewarasanku.

Lelaki itu, masih dengan kegemarannya merajut diksi yang menurutku terlalu wangi untuk jiwanya yang apek, pernah menulis bahwa aku adalah seluruh cakrawalanya.

“Kau adalah jiwaku,” tulisnya waktu itu. Aku membayangkan kata-kata itu ditulis dengan tinta emas di atas perkamen suci, padahal kenyataannya, itu hanyalah pendar cahaya fana di atas kristal cair yang dingin.

Aku mulai menghitung.

Lelaki itu memiliki seribu empat ratus empat puluh menit dalam sehari untuk bernapas, makan, dan mungkin memikirkan hal-hal sepele lainnya. Namun, tak satu menit pun ia sisihkan untuk sekadar mendengar getar suaraku. Baginya, mencintaiku mungkin tak lebih dari sebuah kegiatan administratif yang membosankan, seperti membayar pajak atau melempar tulang kering pada anjing yang setia menunggu di bawah meja.

Dua hari telah meluruh menjadi abu. Aku masih meringkuk di sini, mengeja rindu di balik layar yang kian redup. Aku mulai berpikir, cinta macam apa yang ia agungkan? Jika aku adalah jiwanya, maka ia sedang membiarkan jiwanya sendiri mati kekeringan di padang gersang pengabaian. Ia memuja bayanganku, namun ia tampak sangat membenci kehadiranku secara fisik.

Tepat setelah empat puluh delapan jam, gawai itu bergetar. Sebuah pesan masuk. Aku tidak merasakan debar jantung yang romantis. Sebaliknya, aku merasakan mual yang meluap di pangkal kerongkonganku.

“Maaf Dik, Mas sibuk.”

Aku tertawa. Suara tawaku pecah di kesunyian kamar, terdengar ganjil seperti suara gesekan amplas pada kayu busuk. Jemariku, yang biasanya gemetar karena dorongan impulsif, tiba-tiba menjadi sangat tenang dan dingin saat menari di atas papan ketik.

“Sibuk?” tulisku.

“Dunia ini sudah menyusut ke dalam genggamanmu, tapi kau berlagak seolah jarak antara kita adalah galaksi yang mustahil ditembus. Kau bilang aku adalah jiwamu? Jangan menghina konsep jiwa dengan mulutmu yang penuh dengan diksi murahan itu.”

Aku menarik napas panjang. Aku bisa merasakan paru-paruku mengembang dengan udara yang berat.

“Dua puluh empat jam kau bernapas, dan kau tidak punya satu menit pun untuk mendengar suaraku? Kau bisa menggulir layar untuk sampah di media sosial, tapi jarimu mendadak lumpuh saat harus mengetik namaku? Jangan sebut ini cinta. Ini adalah perbudakan emosional, di mana kau bertindak sebagai tuan yang sombong dan aku adalah pengemis perhatian di depan gerbang istanamu yang kosong.”

Ia membalas dengan pembelaan yang sangat klise: “Kau tahu aku mencintaimu, aku hanya butuh waktu.”

“Cukup!” jariku menghantam layar.

“Waktu bukan sesuatu yang kau ‘butuhkan’, tapi sesuatu yang kau ‘berikan’. Kau mencintai bayanganku karena aku tidak menuntut ruang, tapi kau membenci keberadaannya karena aku menuntut kejujuran. Simpan saja semua diksi surgawimu untuk mereka yang masih cukup bodoh. Aku bukan lagi rumah bagimu, karena kau bahkan tidak pernah sanggup untuk sekadar mengetuk pintunya.”

Aku menekan tombol power. Layar itu mati, gelap, dan hampa. Aku meletakkan sebongkah logam dingin itu di atas meja. Di luar jendela, peradaban digital masih berpesta, namun aku tahu, malam ini aku baru saja melakukan sebuah eksekusi yang paling jenius, mematikan sebuah harapan yang selama ini kuanggap sebagai cinta.