Pukul 23.00 WITA. Jalanan pulang hanya menyisakan dua pilihan pahit: membelah hutan gelap atau melintasi area pemakaman. Saya memilih yang kedua. Setidaknya di sana masih ada lampu jalan, meski suasananya tetap sukses membuat bulu kuduk berdiri.
Malam itu, nyali saya benar-benar diuji. Di jok belakang, tas tenis beraroma keringat tipis bergoyang ritmis tiap kali ban mobil melibas polisi tidur. Tepat di bawah bayangan pohon besar di tepi makam, mata saya menangkap kain putih melayang-layang di tengah kepulan asap tipis. Seketika saya menginjak rem.
Dalam keheningan kabin, detak jantung saya terdengar kacau. Pikiran saya liar; apakah ini “penghuni” yang sering diceritakan warga? Sempat terlintas ide untuk putar balik, bukan karena takut, tapi karena saya tinggal sendiri. Absurd rasanya jika saya mendadak kesurupan; berteriak, mengejang, koprol depan, lalu sadar sendiri tanpa ada penonton yang memberikan segelas kopi atau memijat jempol kaki. Itu bukan horor, itu kesepian yang menyedihkan.
Beruntung, rasa penasaran menang. Mengingat prinsip Dzawin Nur bahwa takut harus dihampiri, saya injak gas dan menyorotkan lampu jauh tepat ke titik putih itu. Voila! Sang “kuntilanak” hanyalah sisa spanduk caleg yang robek di dahan pohon, sementara asapnya berasal dari sisa pembakaran sampah warga yang belum sepenuhnya padam.
Saya tertawa sendiri. Secara ilmiah, saya baru saja dijahili oleh pareidolia—otak saya yang terlalu kreatif menghubungkan objek acak menjadi sosok menyeramkan. Namun, tawa saya getir. Di negeri ini, “salah lihat” seperti ini justru sering dipelihara sebagai modal sosial. Jika saya lari sambil teriak hantu, saya hanya orang biasa. Tapi jika saya bumbui narasi ini dengan bau kabel terbakar atau mata merah, saya bisa mendadak jadi “orang pintar” yang laku jadi narsum TV.
Kecenderungan untuk selalu “meng-hantu-kan” segala sesuatu ini sebenarnya berbahaya karena mengaburkan batasan antara fenomena spiritual dan realitas medis. Padahal, jika merujuk pada Surah Al-A’raf ayat 27, Allah sudah jelas menyebut bahwa setan melihat kita dari tempat yang kita tidak bisa melihat mereka. Maka, jika ada orang yang merasa bisa berlangganan melihat jin setiap hari semudah menonton Netflix, kita perlu bertanya dengan kepala dingin: apakah ini benar-benar fenomena spiritual, atau jangan-jangan gejala skizofrenia hingga gangguan saraf mata yang lebih butuh dokter ketimbang air celup batu?
Ironisnya, ketidaktahuan yang dipelihara ini akhirnya mengakar menjadi tradisi yang salah kaprah dalam keseharian kita. Salah satu contohnya adalah bagaimana kita sering diminta masuk rumah dan “diam” saat Magrib dengan nada mengancam, seolah-olah waktu tersebut adalah jam tayang utama para setan untuk memangsa. Kita dibesarkan dalam narasi ketakutan, padahal Magrib adalah undangan indah untuk sujud, bukan momen untuk gemetaran di bawah selimut karena mitos yang tak berdasar.
Saya mendadak teringat masa kecil; sering bolos salat hanya karena takut mengambil wudu di sumur nenek yang gelap. Sebuah ironi sarkas yang menyedihkan: jika takut kita pada setan ternyata lebih besar daripada kepada Tuhan, sebenarnya siapa yang sedang kita sembah? Pola asuh berbasis horor ini secara tidak sadar telah mengerdilkan logika dan iman kita sekaligus.
Sebab pada dasarnya, setan tidak butuh pengakuan kita. Ia hanya butuh kita cukup bodoh untuk terus-terusan menganggap kain robek sebagai sebuah ancaman spiritual yang harus ditakuti melebihi Penciptanya.