
Begini kita membangun rumah;
tanpa pondasi,
tanpa atap yang meneduh.
Tak ada pintu yang diketuk di awal waktu,
tak ada jendela yang ditutup saat senja meluruh.
Kita adalah percakapan yang tak sempat dibuka,
namun entah bagaimana,
kita sudah berada di tengahnya.
Seperti rintik hujan yang tak pernah berjanji pada tanah,
tapi tiba-tiba saja membasahi seluruh gelisah.
Lalu nanti, barangkali,
kau hanya akan menjadi hening di sela buku-buku,
atau aroma kopi yang menguap dari cangkirku.
Tanpa “sampai jumpa”, tanpa “selamat tinggal”,
sebab bagaimana mungkin ada perpisahan
jika pertemuan pun,
tak pernah kita rayakan?
Begitulah kita, kekasih.
Selesai sebagai ketiadaan,
seperti bayang-bayang yang pulang ke pelukan malam:
tanpa suara,
tanpa jejak,
tanpa pamit yang tertinggal.