Ada Orangnya, Tak Ada Perannya.

Banyak ayah yang merasa tugasnya sudah beres begitu selesai setor uang jajan. Dikira anak itu kayak robot yang cuma butuh diisi baterai sama pulsa. Padahal, tugas utama ayah itu sebenarnya mengisi “gelas” perasaan anak, bukan cuma ngisi dompet saja.

Dalam psikologi, ada istilah Father Hunger. Kondisi di mana seorang anak “kelaparan” sosok ayah. Bukan karena ayahnya nggak ada, tapi karena ayahnya “gaib”, fisiknya di sofa, tapi jiwanya entah di mana.

Jangan heran kalau anak perempuannya nanti gampang baper atau “klepek-klepek” cuma gara-gara dengar gombalan receh, “Chat dari kamu itu, vitamin buat aku.” Pertahanannya jadi serapuh kerupuk kena angin. Kenapa? Karena di rumah dia nggak pernah ngerasain validasi. Padahal, ayah itu sejatinya adalah “cinta pertama” anak perempuannya. Kalau cinta pertamanya saja cuek, dia nggak punya standar cowok yang benar itu kayak gimana. Dia jadi nggak tahu bedanya mana tulus, mana modus.

Dia bukan murahan. Dia cuma musafir yang kelaparan di rumah sendiri. Di tengah gurun batin yang kering kerontang, air comberan pun bakal disangka oase. Dia cuma haus perhatian yang harusnya dia dapatkan dari ayahnya. Tragis memang, tapi itulah yang terjadi kalau ayah cuma jadi “patung” yang gagal hadir secara rasa.

Padahal kalau kita intip di Al-Qur’an, contoh ayah hebat kayak Luqman Al-Hakim itu kerjanya ngobrol sama anaknya. Bukan cuma kasih makan, tapi kasih wejangan sambil deep talk. Allah juga memberikan “sentilan” di surat At-Tahrim ayat 6, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Jagain keluarga dari api neraka itu nggak bisa cuma modal transferan saldo tiap bulan. Butuh pelukan, butuh didengar curhatnya, dan butuh hadir pas dia lagi sedih.

Lalu, gimana kalau nasi sudah telanjur jadi bubur? Tenang, nggak ada kata telat untuk memperbaiki keadaan. Satu hal yang perlu diingat: minta maaf kepada anak bukan berarti runtuh wibawa ayah. Justru, mengakui kesalahan dan mulai hadir secara emosional adalah bentuk kepemimpinan yang paling jantan. Dengan meminta maaf, ayah sedang mengajarkan anaknya tentang kejujuran dan kasih sayang yang nyata.

Mulai sekarang, yuk bisa yuk, coba turunkan yuk sedikit egonya. Karena bagi seorang anak perempuan, pengakuan dari ayahnya adalah benteng terkuat yang melindunginya dari kerasnya dunia di luar sana.

Ganbatte untuk seluruh Ayah, Papa, Papi, Abi, Bapak, Daddy (bukan sugar daddy) di luar sana.