Mobil melaju lambat.
Sore di luar jendela masih cerah, menyapu hamparan rumput luas yang seperti tidak punya ujung. Di dalam sini, di ruang sesempit ini, aku menatapmu. Cuma ada satu hal yang memenuhi kepalaku: sekarang, kau milikku.
Tapi memiliki ternyata tidak pernah membawa tenang. Sama sekali tidak. Justru karena kau sudah di sini, di dekapanku, aku malah jadi orang paling penakut di dunia. Cemas ini tumbuh terus, merembet ke mana-mana. Takut pada hari esok, takut pada jarak, takut pada apa saja yang mendadak bisa membuatmu hilang.
Jemariku menyentuh lehermu. Pelan sekali. Rasanya begitu halus, seperti sedang memegang selembar surat wasiat yang ringkih. Begitu berharga, tapi juga ringkih. Seolah kalau aku lengah sedetik saja, takdir bakal melipatnya lagi, merebutnya kembali. Lalu tatapanku turun ke bibirmu, dan ada rasa panik yang tiba-tiba menyergap dada. Aku takut setengah mati kalau senyuman di sana sampai kaubagikan pada orang lain.
Kita berdua tahu ini salah. Jalan ini keliru. Kita seperti sengaja membangun sebuah neraka kecil, mengurung diri dari dunia luar. Tapi mau bagaimana? Justru di dalam ruang penuh cela inilah, di pusaran dosa ini, aku merasakan kembali denyut jantungku. Di sini aku merasa benar-benar hidup. Sangat hidup.
Makanya, tolong jangan pulang dulu. Malam bisa menunggu. Jangan biarkan tawa itu jatuh ke tangan lelaki lain yang bahkan tidak paham arti sepi di matamu. Aku ini pencemburu yang malang. Sisi liarku bisa keluar begitu saja kalau dipicu rasa takut kehilanganmu.
Coba lihat ke luar jendela. Hamparan rumput yang luas itu mulai pelan-pelan menggelap, menyerah pada malam. Dan di dalam mobil ini, seluruh diriku yang rapuh sudah kaubawa pergi. Aku milikmu. Habis.