Memang perkara pelik, berteman dengan seonggok raga bernama diri sendiri ini.
Kadang, kala kopi sudah dingin dan malam mulai larut, pikiranku suka melantur heran sendiri: kok bisa-bisanya makhluk sebingung ini masih sudi angkat kaki dan berjalan?
Ah, sudahlah, jujur saja aku sedang kepalang lelah.
Jiwa ini rasanya kembang kempis, kehabisan napas diisap debu jalanan kota yang makin hari makin berisik saja.
Tapi ya sudah, ada satu janji tua yang telanjur kukunci rapat dalam dada.
Toh, badai yang bikin riuh di dalam kepala ini lambat laun bakal adem juga, mengendap kalem mengikuti sunatullahnya.
Jadi, di ujung rasa letih yang bikin sendi rasanya mau copot ini, aku cuma mau titip satu pinta sederhana: mari, jangan buru-buru tunduk dan karam dalam kalah.