Hai cahaya,
terima kasih sudah berhenti
tepat di depanku.
Sudah terlalu lama
aku berjalan tersandung-sandung
di sisa-sisa malam yang temaram.
Memelihara ragu yang tak selesai-selesai,
seperti terkurung di kamar gelap
yang kuncinya entah dibuang ke mana.
Lalu kau datang membawa sinarmu,
dan seketika sepi itu runtuh.
Kau tidak sedang berlagak menjadi penyelamat,
kau hanya mengetuk pintu pelan sekali.
Di tengah dunia yang bising dan terburu-buru,
ketukanmu itu seperti berbisik:
bahwa yang tersisa dari diriku,
ternyata masih layak untuk kau simpan.