Subuh tadi hujan deras.
Tapi berjuta curahnya gagal meredam berisik di kepalaku.
Langkahku sungguh teramat lelah, limbung sendiri.
Menyerah pada bising yang tak kenal waktu.
Dari magrib, ashar, zuhur sampai bertemu subuh lagi, benak ini isinya cuma kamu, berdengung tanpa jeda.
Mungkin kini masanya pulang merawat diri.
Menjemput sunyi, melupakan sejenak perihal hati.
Tapi ya begitu, ingatan ini selalu saja tahu jalan balik padamu.
Duhai, kita ini sebenarnya mau ke mana?
Cuma sebatas tanah gersang yang mengemis air langit,
atau fajar angkuh yang terbit hanya untuk mengeringkan sisa rintik hujan?