Kau menjemputku di bandara hari itu. Kita lalu melarutkan diri, menikmati kota, menyesap bising jalanan, sebelum akhirnya langkah kaki menuntun kita ke sudut ini. Ruang di mana siang dan malam kehilangan bedanya.
Fajar tak pernah mengintip masuk ke sini. Kita selalu butuh pijar lampu, bahkan hanya untuk saling melihat wajah. Di sini, waktu kehilangan kuasa. Semua penghakiman luar sana mati tepat di balik daun pintu.
Jangan terburu-buru menghapus jarak. Biarkan ada jeda satu ketukan sebelum tangan kita saling menggenggam. Sebelum jemari ini menyentuh keningmu. Jeda satu detik yang sunyi itu, barangkali, adalah kepasrahan paling jujur. Jauh lebih dalam dari ribuan kalimat yang diucapkan tergesa-gesa.
Ketika kita akhirnya saling menemukan dalam diam, jangan tanyakan sudah berapa lama kita terjebak dalam sepi yang sama. Pertanyaan itu tak lagi penting. Cukup rasakan: di bagian mana dari hatimu yang paling butuh ketenangan malam ini?
Sebab tempat ini tak pernah meminta janji. Tak menuntut ikatan yang menjerat.
Di sini, kita hanya sedang belajar melepaskan semua beban yang menggelayuti pundak.
Esok hari, dunia mungkin kembali menguji ketabahanmu hingga kau merasa hampir pecah. Namun ingatlah, selalu ada jalan pulang menuju ruang sunyi yang menyembunyikan kita dari matahari.
Sebuah sudut sepi yang dirahasiakan dari dunia. Tempat di mana kau selalu diizinkan menjadi manusia yang paling rapuh.