Aku membuka mata dan—entahlah—dunia langsung terasa terlalu bising. Tapi aku tidak mau mengutuk apa pun hari ini. Tuhan sudah baik, anugerah-Nya masih bisa kurasakan di sela-sela napas yang agak sesak ini. Aku menerima semuanya tanpa penyesalan. Hanya saja… ya, lubang sialan di dada ini tetap menganga. Dia tidak peduli seberapa bersyukurnya aku pagi ini. Dia tetap kosong. Dan dingin.
“Apakah itu kamu?” aku bergumam sendiri sambil menyentakkan ritsleting jaket jeans-ku ke atas. Sreek.
Lalu sedetik kemudian kepalaku membantah: “Atau dia?”
Sial, pencarian ini seperti mesin tua yang remnya blong. Terus berputar tanpa henti. Kaki ini melangkah keluar, menghantam trotoar retak-retak yang basah oleh sisa gerimis. Aku berjalan tanpa tahu tujuan, cuma mengikuti ke mana hati mau berbisik.
Kadang aku berpikir, apa sebenarnya yang bisa menyumbat lubang ini? Apakah cinta? Sejenis kehangatan murahan yang biasa kaudengar di lagu pop radio bus malam? Ataukah cita? Sebuah panggung megah tempat orang-orang bermata kosong bertepuk tangan melihat keberhasilanmu?
Dulu, aku sempat yakin betul kalau perempuan yang baunya seperti cengkeh dan hujan sore hari itu adalah obatnya. Aku mengira pelukannya adalah rumah terakhir tempatku pensiun dari sepi. Tapi waktu selalu punya cara yang kurang ajar untuk menelanjangi ilusi. Saat aku mendadak terbangun jam tiga subuh di kamar sewaan yang pengap, kasur di sebelahku kosong dan dingin. Bukan dia. Ternyata bukan itu yang kucari. Realitas itu memukul dahiku, getir sekali.
Perjalanan ini panjang, panjang dan melelahkan sampai jempol kakiku mati rasa karena kaus kaki yang bolong kemasukan air. Tapi anehnya, aku tidak mau berhenti. Di tengah angin malam yang menusuk tengkuk, aku seperti mendengar suaramu—entah kamu ini siapa dan ada di belahan bumi mana—berbisik serak: Jalan terus. Kamu tidak ingin aku mati di sini, kan?
Jadi, persetan dengan semua ketidaktahuan ini.
Aku melompat menghindari genangan air hitam. Lampu neon jalanan memantul pecah di permukaannya.
Kamu? Dia? Cinta? Cita?
Pertanyaan-pertanyaan itu bertubrukan di dalam kepalaku, saling sikut, saling telan. Aku tidak tahu mana yang nanti mau mampir dengan sabar dan menutup laci kosong di dadaku. Dan setelah kupikir-pikir lagi di bawah sisa gerimis ini, persetan juga dengan jawaban. Biarkan saja lubang ini terbuka. Aku akan terus berjalan, merawat ketidaktahuan ini dengan keras kepala, menantang malam sampai fajar pecah menjadi jingga yang berdarah-darah.