Sebagai guru, hati saya hancur dan tercekat waktu mendengar kabar tentang teman sejawat kami. Guru SD Negeri Balikpapan Timur yang dikeroyok sampai terluka hanya karena menegur pelajar yang asyik merokok menggunakan seragam sekolah. Bayangkan, di mana harga diri pendidik sekarang? Ruang kelas yang harusnya aman, mendadak mencekam. Teman-teman guru sekarang didera rasa cemas setiap kali mau menegakkan disiplin. Takut niat baik mendidik malah berujung kekerasan.
Angka 132 kasus kekerasan anak dari DP3AKB Balikpapan hingga pertengahan 2026 ini bukan sekadar data statistik. Ini bukti nyata bahwa lingkungan anak-anak kita sedang tidak baik-baik saja. Hari ini ponsel telah menjadi dunia utama mereka. Di balik layar gawai itu, mereka setiap hari mengonsumsi amarah, makian, dan perundungan yang dikemas sebagai hiburan. Tanpa sadar, tontonan itulah yang mendikte watak baru mereka.
Lalu sekolah harus bagaimana? Apa cukup dengan menyuruh murid menghafal lagu anti-perundungan? Jelas tidak. Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, lewat konsep Tri Pusat Pendidikan, dari dulu sudah mewanti-wanti: karakter anak itu harus tumbuh seimbang antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kalau salah satu rapuh, moral anak pasti runtuh. Kita tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri; guru di sekolah dan orang tua di rumah harus bergerak bersama.
Di sisi sekolah, kami para guru di kelas harus berani mengubah cara mengajar. Jangan hanya ceramah, tapi hidupkan pembelajaran bermakna lewat pendekatan berbasis masalah (Problem-Based Learning). Lempar video kekerasan atau fenomena digital yang biasa mereka tonton ke tengah kelas. Ajak mereka berdebat, membedah dampaknya secara kritis, dan berpikir mandiri. Dari sanalah empati mereka disentuh, bukan lewat hafalan teori demi nilai ujian.
Namun, sebagus apa pun metode kami di sekolah, ikhtiar ini akan pincang jika tidak disambut oleh fondasi utama di rumah. Di sinilah peran krusial orang tua diuji. Coba perhatikan anak-anak yang di rumahnya sering diajak mengobrol oleh orang tuanya. Mereka pasti tumbuh lebih tenang, lebih peka, dan tahu cara mengendalikan amarah. Ini bukan sekadar tebakan, tapi fakta yang berulang kali diingatkan oleh para peneliti anak di Cambridge University: kecerdasan emosional anak itu modal utamanya adalah merasa didengarkan di rumah.
Sederhana, bukan? Tapi justru di sini kekeliruan terbesar kita sebagai orang dewasa hari ini. Kita sering terlalu lelah, lalu memilih menyuap anak dengan gawai agar mereka tenang. Kita biarkan mereka sendirian menghadapi belantara internet, sampai kita lupa kapan terakhir kali duduk tenang dan mendengarkan cerita mereka. Padahal, waktu anak di sekolah itu sangat terbatas. Sisa hari mereka adalah tanggung jawab penuh lingkungan keluarga. Oleh karena itu, solusinya tidak perlu muluk-muluk; mari singkirkan layar gawai sejenak, lalu rebut kembali kedekatan yang sempat hilang itu.
Setuju sekali dengan tulisan ini! 💡
Sangat mencerahkan dan relevan dengan realitas pendidikan saat ini.
Terima kasih sudah menyuarakan hal penting ini. Tetap semangat untuk terus membagikan kebaikan dan menginspirasi lewat tulisan-tulisan selanjutnya Bu Diyah