Sepasang Mata yang Salah Membaca Isyarat di Bawah Temaram Lampu Lima Watt

Lantai semen Pasar Sentral yang kupijak sudah retak-retak, selekas nasib lapak loak kami yang digusur perda tata kota minggu lalu. Senja mendarat dengan tergesa di mataku, membawa bau amis parit, teriakan sisa obral sayur, dan deru buldoser proyek mal baru di seberang jalan. Bagiku, pemerintah memang selalu punya cara halus mengusir rakyat: naikkan retribusi, matikan lampu remang-remang, lalu sebut kawasan kami kumuh. Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang gulung tikar, aku memilih berdiri termangu sendirian di depan kios nomor dua belas. Kios kain milik ibumu.

Dulu, di bawah temaram lampu lima watt inilah aku pertama kali menatap matamu. Aku memegang erat janjimu yang katanya akan kembali setelah urusan barumu di kota selesai. Maka, di setiap sore yang bising oleh klakson angkot dan tawar-menawar yang sengit, aku selalu meluangkan waktu untuk singgah. Aku rela menunggumu di antara tumpukan kain katun yang kian berdebu, berharap mataku menangkap siluet tubuhmu muncul membelah kerumunan kuli panggul. Aku bertahan di pasar yang sekarat ini hanya demi dirimu.

Namun sore ini, mataku tertumbuk pada selembar surat penyegelan dari dinas pasar yang tertempel di pintu kayu itu. Gemboknya besar dan berkarat. Ibumu sudah pindah sebulan lalu karena tak kuat membayar sewa yang mencekik leher. Dan aku mendengar kabar dari ujung los, bahwa kau sudah sering terlihat di kafe mewah seberang jalan, menggandeng orang lain. Kau mengabaikan kenyataan bahwa aku masih di sini, terjebak sepi menantimu.

Ternyata, salah sangka bisa se-memalukan ini.

Aku mengira kau sedang berjalan menuju kemari, mengusahakan kita. Padahal tidak. Kau tahu persis di mana aku berada, kau tahu jalannya, tapi langkahmu memang tak pernah bergerak ke arahku. Tidak pernah.

Di hadapan kenyataan itu, aku mendadak sadar. Aku seperti orang bodoh yang berdiri di depan pintu toko yang terkunci, menunggu seorang penjual yang memang tidak pernah berniat membuka pintunya untukku.

Maka, hari ini aku memilih pulang. Sederhana saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *