Sapardi pernah berbisik bahwa tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.
Namun bagiku, ia keliru. Ada yang jauh lebih tabah sekaligus sunyi, yaitu sepotong hati yang memilih mengekalkan diri dalam penantian yang tak bertuan.
Hujan, setidaknya, tahu kapan harus jatuh dan kapan harus reda. Ia melepaskan diri pada bumi yang pasti menyambutnya.
Namun, hati yang menanti dalam ketidakpastian bagaikan sepasang kaki yang terus melangkah di atas jembatan kabut; tak tahu apakah di ujung sana ada daratan, atau justru jurang yang menganga.
Lalu ia berkata lagi, ia ingin mencintai dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Tapi maaf, aku tidak bisa mencinta secara sederhana. Aku menolak menjadi abu yang diam dan lenyap dalam senyap.
Sebab bagiku, cinta kepadamu adalah sebuah perayaan yang benderang. Aku ingin seluruh semesta tahu bahwa aku telah menjatuhkan pilihan, dan kamu menyambut pilihan itu tanpa ada ragu yang tersisa.
Aku tak mau dikerdilkan, tak mau disembunyikan, dan tak mau disederhanakan untuk urusan cinta kepadamu. Jika mencintaimu adalah sebuah kelancangan, maka biarlah aku menjadi seisi dunia yang paling bising dalam memelukmu.
Hingga akhirnya, lewat bait terakhirnya Sapardi meramal masa depan: bahwa pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini, kau tak akan kurelakan sendiri.
Untuk yang satu itu, aku bersimpuh dan menyetujuinya. Biarlah larik-larik puisi ini yang menggantikan ragaku untuk mengisi harimu, di saat aku tak lagi sanggup untuk kau tatap.