
Ada selentingan yang bikin dahi mengernyit: “Baca buku kok diposting? Pamer ya? Penulis beken saja nggak pernah tuh pamer lagi baca.”
Lucu, tapi juga ironis. Di era saat foto semangkuk seblak atau segelas kopi dianggap “estetik”, kenapa memajang sampul buku malah dicap “haus validasi”? Kalau kita bisa dengan bangga memamerkan sepatu baru yang bakal usang, mengapa kita malu menunjukkan otak mungil yang sedang diasah?
Begini ya, urusan niat itu wilayah privat antara manusia dan Tuhan. Ada yang sekadar ingin mengarsip jejak literasinya, ada yang ingin berbagi gizi lewat ulasan singkat, atau siapa tahu, satu foto itu menjadi “kompor” bagi teman yang lama tidak baca agar kembali menyentuh lembaran kertas.
Memang, penulis hebat mungkin jarang memamerkan bacaannya. Tugas mereka memang menulis, bukan sibuk berswafoto. Tapi kita? Kita adalah barisan penggerak literasi dari akar rumput. Kita punya hak untuk merayakan setiap bab yang tuntas dengan cara sendiri.
Memosting buku bukan berarti merasa paling jenius atau sok intelektual. Itu cara sederhana kita berteriak: “Dunia di buku ini keren banget, lho! Masa kamu nggak mau ikutan?”
Jadi, sudahlah. Jangan pusing dengan nyinyiran orang yang barangkali terakhir kali baca buku saat ujian sekolah. Teruslah membaca, teruslah berbagi. Selama yang kita sebarkan adalah virus literasi, kenapa harus minder?
Mari kita penuhi beranda dengan buku, bukan sekadar drama yang tak perlu.
Oya, jadi, soal judul “Dosa Besar” tadi? Ya, itu cuma cara saya membangunkan Anda dari lamunan.
Baik-baik, kalau tetap dipaksa apa dosanya agar seusai judul, ini dosanya, cuma satu: kalau Anda punya bacaan keren tapi cuma disimpan sendiri sampai berdebu. Itu namanya pelit ilmu!