Di matamu, aku tahu persis siapa diriku: manusia keras kepala.
Sore itu, aku berjalan hanya sejauh satu jengkal di belakang pundakmu, memandangi bayangan kita yang memanjang di atas aspal.
Kau itu bagiakan rasi bintang yang dikagumi banyak mata. Di sekelilingmu sibuk berkumpul mereka yang jauh lebih rupawan, lebih cerdas, dan ranum. Namun, justru karena satu hal ini aku betah menetap: kau tak pernah menjadi senja yang bisa dimiliki setiap orang. Kehangatanmu mahal, tak kau biarkan sembarang tangan masuk dan salah mengira. Ada batasan yang kau jaga dengan begitu anggun.
Makanya, jarak yang membentang di antara kita sekarang tak lagi terasa menakutkan. Dari seberang sana, ketenangan yang kau kirim selalu mengalir pelan—laksana oase di tengah gundukan pasir yang gersang di kepalaku. Terima kasih, ya. Sudah sudi menjadi rumah terjauh yang paling aman untukku.
Tapi, jalan pulang ke rumah itu memang tidak pernah mulus.
Dulu, sebelum kau ketuk pintuku, aku ini cuma manusia yang berjalan tersandung-sandung. Ragu yang tak selesai-selesai kupelihara sendirian, terkurung di kamar gelap yang kuncinya entah dibuang ke mana.
Sambil melangkah di sebelahmu, larik puisi lama mendadak lewat di kepala. Sapardi pernah berbisik, katanya tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.
Bagi negosiasi batin yang kulakukan sepanjang jalan ini, lelaki tua itu keliru. Ada yang jauh lebih tabah sekaligus sunyi dari sekadar air yang jatuh ke tanah: sepotong hatiku ini, yang sempat memilih mengekalkan diri dalam penantian yang tak bertuan.
Hujan, setidaknya, tahu kapan harus jatuh dan kapan harus reda. Ia melepaskan diri pada bumi yang pasti menyambutnya. Tapi, menantimu dalam ketidakpastian yang lalu itu rasanya bagai sepasang kaki yang terus dipaksa melangkah di atas jembatan kabut. Terus berjalan tanpa pernah tahu, apakah di ujung sana ada tanah untuk bertumpu, atau justru jurang yang siap menganga mematahkan leher.
Lalu di halaman buku yang sama, lelaki tua itu berkata lagi: ia ingin mencintai dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Memikirkan itu, ego di dadaku langsung berontak. Aku berbisik pada angin sore: Maaf, Tuan Sapardi, aku tidak bisa mencinta secara sederhana. Aku menolak menjadi abu yang diam dan lenyap dalam senyap.
Sebab bagiku, mencintaimu adalah sebuah perayaan yang benderang. Tak sudi aku bersembunyi di balik analogi kayu dan api. Aku ingin seluruh semesta tahu kalau aku telah menjatuhkan pilihan, dan hari ini, kau menyambut pilihan itu tanpa ada ragu yang tersisa. Aku tak mau dikerdilkan, tak mau disembunyikan, dan tak mau disederhanakan untuk urusan cinta kepadamu. Jika mencintaimu yang setinggi rasi bintang adalah sebuah kelancangan, biarlah aku menjadi seisi dunia yang paling bising dalam memelukmu.
Langkahku terhenti di ujung trotoar. Di sela deru klakson kota yang mulai bersahutan, kau tiba-tiba berbalik. Tatapanmu tenang sekali, seolah riuh di kepalaku sama sekali tak mampu mengusikmu. Kau tidak berkata apa-apa tentang penolakanku pada abu, tidak juga menghakimi kelancangan itu.
Hanya tanganmu yang mengulur pelan, membiarkan angin yang makin dingin menyelinap di antara celah pakaian kita.
“Lihat,” antarmu memecah lamunan, jemarimu menunjuk ke ujung jalan di mana langit kota mulai memerah. “Bukankah itu senja yang selama ini Adik pamerkan?”
Aku menoleh. Jingganya pelan-pelan menyalin hangat sore yang sempat hilang dari hidupku. Dan di detik itu, duniamu merunduk lembut, menyusup di antara jemariku. Kita saling menggenggam. Tidak ada suara ledakan, tidak ada kembang api. Hanya ada sesuatu yang magis sedang terjadi—sesuatu yang sangat sederhana, namun aku tahu, kejadian ini akan menetap lama sekali di kepala.
Hingga akhirnya, langit perlahan menggelap dan aku teringat bait terakhir dari ramalan masa depan sang penyair: bahwa pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini, kau tak akan kurelakan sendiri.
Untuk yang satu itu, aku bersimpuh dan menyetujuinya tanpa syarat.
Kelak, jika waktu menagih ragaku dan menghentikan langkah kaki ini, biarlah larik-larik puisi yang pernah kutulis ini yang menggantikan tubuhku untuk mengisi harimu. Menemanimu di saat aku tak lagi sanggup untuk kau tatap.
Sebab rasi bintang sepertimu, selamanya layak memiliki sebuah rumah—meski itu hanya terbuat dari kata-kata.