Aku makan rawon sambil duduk biasa saja,
tidak sambil merenung berlebihan,
tidak juga mencari makna hidup.
Hanya sendok,
nasi hangat,
dan kuah hitam,
yang entah kenapa mengingatkanku padamu.
Kamu suka rawon, itu saja alasannya.
Terkadang, itu sudah cukup untuk mencoba sesuatu, tanpa perlu banyak tanya.
Aku menyeruput pelan, berpikir: oh, jadi ini yang kamu suka.
Masuk akal.
Hangat,
jujur,
tidak ribet,
tapi tinggal lama di lidah.
Aku tidak tiba-tiba jatuh cinta pada rawon,
tapi aku paham sekarang, kenapa kamu memesannya tanpa ragu.
Aku tersenyum kecil,
karena ternyata melakukan hal sederhana karena seseorang, rasanya seperti ini.
Tidak dramatis, tidak meledak-ledak.
Hanya nyaman,
seperti makan siang yang tidak ingin cepat selesai.