Di tengah ruangan, tubuh ayahnya membujur kaku di atas kasur tanpa dipan. Hanya dibungkus kain putih, ditutup kain jarik cokelat lawas yang warnanya sudah pudar. Hidungnya sudah disumpal kapas. Selesai sudah urusan dunia laki-laki itu.
Di pojok kamar, Mak menangis meraung-raung sampai suaranya habis. Sementara tepat di samping jenazah, dua adik Joko yang baru berumur lima dan dua tahun malah asyik main mobil-mobilan plastik murahan. Mereka dorong-dorong mainan itu di lantai tanah sambil sesekali tertawa, sama sekali tidak paham kenapa rumah mereka mendadak ramai.
Di dekat pintu, Pak RT berbisik ke tetangga lain. “Ayo cepat dimakamkan, mumpung belum terlalu sore. Angkat sekarang.” Orang-orang bergegas. Mereka langsung mengangkat tandu kayu dengan cepat, membawa tubuh kaku itu pergi ke pemakaman.
Begitu orang-orang pulang dari kuburan, Mak langsung menghapus air matanya dengan daster. Beliau bergegas ke dapur, menyalakan kompor, lalu menyiapkan bergelas-gelas minuman di atas meja.
“Joko, bantu Mak. Angkat air minum sama camilan ini ke depan,” panggil Mak, napasnya masih tersengal-sengal sisa menangis.
Joko diam. Tangannya memegang nampan plastik, tapi hatinya menolak keras. Pas kembali ke dapur untuk mengambil sisa baki, Joko tidak tahan lagi untuk bertanya.
“Mak, kita kan lagi sedih. Bapak baru saja dikubur. Kenapa kita malah sibuk bikin ginian buat orang-orang?”
Mak menghentikan tangannya yang lagi menuang air. Matanya sembap. “Ini tradisi, Joko. Buat ucapan terima kasih karena mereka sudah bantu urus jenazah Bapakmu.”
“Tapi kan kita tidak punya uang, Mak?”
“Sudah, jangan banyak tanya. Kalau tidak bikin acara, nanti kita digunjing tetangga. Mau ditaruh di mana muka kita?” jawab Mak lirih, tangannya agak gemetar.
Joko terpaksa bungkam. Seminggu penuh rumah itu riuh. Lantunan doa bersahut-sahutan dengan kepulan asap rokok para pelayat yang mengobrol di ruang tamu. Joko dan Mak terjaga sampai larut malam hanya untuk memastikan piring-piring makanan dan gelas kopi tidak kosong.
Malam ketujuh selesai. Rumah akhirnya sepi, menyisakan bau tembakau menyengat dan lantai yang lengket.
Mak duduk di dekat lampu minyak, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Wajahnya kelihatan lelah sekali.
“Joko, besok sepulang sekolah, kamu bantu Mak jualan gorengan keliling, ya?”
Joko mengernyit. “Kenapa harus keliling, Mak? Biasanya kan cukup buka lapak di depan rumah?”
Mak menunduk dalam-dalam, air matanya jatuh lagi. “Uang kita habis, Joko. Mak terpaksa utang ke warung sebelah dan beberapa tetangga untuk beli sembako, rokok, sama isi besek seminggu ini. Utang kita banyak sekali.”
Dada Joko rasanya sesak seketika. Bapak meninggal tidak meninggalkan uang sepeser pun, tapi tradisi ini justru meninggalkan utang yang mencekik mereka yang masih hidup.
Sejak hari itu, tidak ada lagi waktu bermain buat Joko. Begitu bel sekolah berbunyi, dia langsung memanggul kotak kayu. Berjalan menyusuri gang demi gang di bawah terik matahari, jualan sampai larut malam demi melunasi sisa-sisa biaya ritual kematian ayahnya.
Suatu malam, saat badannya capek luar biasa dan kakinya pegal, Joko menatap Mak yang lagi sibuk mengaduk adonan tepung.
“Mak,” panggil Joko pelan. “Kalau nanti Joko yang mati duluan, Joko tidak mau ada acara tahlilan ya, Mak.”
Mak mendongak, kaget. “Hus! Bicara apa kamu ini, Joko?”
“Joko serius, Mak. Joko tidak mau didoakan sama orang-orang yang datang cuma buat nungguin makanan. Joko juga tidak mau lihat adik-adik harus putus sekolah atau capai jualan sampai malam cuma buat bayar utang acara mati Joko.”
Joko menyeka keringat di lehernya dengan handuk kumal, lalu menatap Mak lekat-lekat.
“Biar Joko pergi dengan tenang, Mak. Cukup Mak sama adik-adik saja yang doakan Joko pas salat. Doa jujur dari Mak di rumah itu lebih didengar Tuhan, daripada acara besar tapi uangnya hasil utang.”
Mak tidak menjawab. Beliau hanya diam menunduk, kembali menyendok adonan tepung ke dalam wajan yang minyaknya mulai panas.
Joko meraih kain lap kumal, lalu mulai membersihkan meja kayu yang lengket oleh sisa adonan.