Kota ini tidak pernah berhenti berisik. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, saling buru, seolah-olah jalan raya adalah sepotong waktu yang hampir habis. Langkah kaki orang-orang bergerak cepat di atas trotoar. Mereka terburu-buru mengejar sesuatu yang mungkin mereka sendiri tidak tahu apa. Semua orang tampak punya tujuan, semua orang tampak sedang ditunggu.

Namun, tepat di tengah keriuhan yang pekak itu, sepi justru tumbuh subur di dalam dadamu. Ia seperti akar pohon tua yang diam-diam menjalar, merambat, dan mencengkeram dinding-dinding hatimu tanpa suara. Suara mesin, teriakan jalanan, dan tawa orang-orang asing di sekitarmu mendadak larut, menguap menjadi keheningan yang panjang.
Kau menyadari satu hal: keramaian kota ini hanyalah dekorasi yang gagal menyembunyikan kekosonganmu. Di antara ribuan manusia yang berpapasan, kau tetap berdiri sebagai sebatang pohon yang meranggas di tepi jalan. Menunggu rintik yang tak kunjung jatuh..
Kau berdiri di tepi jendela kaca sebuah kedai kopi. Di luar, langit mendadak berubah abu-abu. Kau melihat rintik pertama jatuh menyentuh aspal. Lalu, deras yang kau tunggu-tunggu itu datang juga. Setiap tetesnya tampak begitu meyakinkan, seolah-olah mampu membasahi seluruh tanah gersang dan menghapus debu-debu kota yang melekat di ingatanmu. Kau tersenyum tipis. Penantianmu seperti akan segera selesai.
Namun, saat kau melangkah keluar dan mengulurkan telapak tangan, tidak ada setetes pun air yang menyentuh kulitmu. Aspal di bawah kakimu tetap kering dan berdebu. Hujan itu tidak pernah ada di sana. Ia hanya fatamorgana yang diciptakan oleh matamu yang terlanjur lelah berharap.
Kau termenung di bawah langit yang sebenarnya bersih tanpa awan. Angin sore berembus dingin, membawa tanya yang sedari dulu kau simpan rapat-rapat: Apakah semua ini akan menjadi percuma? Apakah setiap rindu yang kau rapalkan pada gerimis, dan setiap detik penantian yang kau habiskan di sudut kota ini, hanya akan menjadi percuma yang sengaja kau rawat?