
Di kantor, selain hirarki jabatan, ada satu hukum rimba yang tidak tertulis namun lebih sakti dari SK pengangkatan: hukum senioritas berdasarkan uban.
Belakangan ini, saya sering geli sendiri melihat fenomena rekan kerja “Gen Baby Blues”, maksud saya, generasi senior yang mendadak melankolis kalau bahas umur. Senjata andalan mereka adalah kalimat sakti: “Jangan sombong, belum tentu umurmu nyampe setua saya.”
Waduh, kalau sudah dengar kalimat itu, rasanya kita yang muda ini harus langsung sujud syukur karena masih diizinkan bernapas oleh alam semesta. Seolah-olah umur panjang adalah murni hasil prestasi kerja keras mereka, bukan bonus dari Yang Maha Kuasa. Kita yang muda cuma bisa manggut-manggut sambil membatin, “Iya deh, Pak/Bu, kami ini butiran debu yang baru kemarin sore kenal gorengan kantin.”
Tapi lucunya, aura “kesaktian” umur ini mendadak luntur saat ada instruksi kerjaan baru yang butuh tenaga ekstra atau olah pikir yang agak njelimet.
Saat pimpinan minta kita bikin laporan berbasis aplikasi atau sekadar mengoperasikan rumus Excel yang sedikit lebih canggih dari tambah-kurang, mendadak kalimat saktinya berubah. “Walah, yang muda-muda sajalah yang ngerjain. Kan otaknya masih segar. Kami ini sudah bau tanah, sebentar lagi pensiun, mata sudah lamur.”
Lho, lho, lho… Tadi katanya umur panjang itu kebanggaan yang harus kami segani, tapi kok giliran ada tugas, umur malah dijadikan alasan untuk “pindah tugas” ke meja sebelah?
Ini namanya strategi “Pensiun Dini Sebelum Waktunya”. Kalau soal nasihat kehidupan, mereka adalah suhu. Tapi kalau soal urusan operasional kantor, mereka mendadak jadi murid TK yang perlu bimbingan. Jadi, umur itu sebenarnya prestasi atau dispensasi?
Logikanya begini: kalau memang sudah senior dan punya jam terbang tinggi, bukankah seharusnya hasil kerjanya lebih presisi? Bukannya malah menjadikan uban sebagai bendera putih tanda menyerah pada teknologi.
Pada akhirnya, kami yang muda-muda ini cuma bisa mengelus dada (dan mengelus keyboard). Kami hormat pada umur Anda, sungguh. Tapi tolonglah, jangan gunakan “bonus umur” itu hanya untuk pamer saat makan siang, lalu mendadak jadi “manusia prasejarah” saat ada kerjaan datang.
Sebab, pensiun itu bukan soal berhenti bekerja sekarang, tapi soal meninggalkan warisan kerja yang baik. Jangan sampai warisan Anda ke kami cuma satu: tumpukan tugas yang belum selesai karena alasan “mata sudah lamur”.
Tabik!