
Masih saja ada yang tanya ke saya, “Ngapain sih kamu nulis? Ribet banget, semua-mua dikomentari. Lagian, emang ada yang mau baca? Emang kalau kamu nulis, harga beras langsung turun?”
Begini, wahai Kisanak yang budiman. Kalau pikiran anda cuma soal untung-rugi secara instan, saran saya cuma satu: mending jualan gorengan. Begitu bakwan matang, ada pembeli, ludes, uang di tangan. Jelas, konkret, enggak pakai mikir filosofis.
Tapi menulis itu beda muaranya. Ini bukan soal dagangan yang harus habis hari itu juga. Menulis adalah cara paling jantan (walau saya betina) untuk membuktikan kalau kita itu punya otak (mungil) yang masih jalan, dan hati yang enggak karatan.
Pertama, soal ribet. Menulis itu memang bakal terasa “ngoyo” kalau niatnya cuma pengen dibilang keren atau pamer gelar. Tapi kalau niatnya berbagi ilmu, ke-ribet-an itu berganti nama menjadi tanggung jawab moral. Lagi pula, orang yang rajin menulis itu biasanya nggak gampang “sumbu pendek” alias dikit-dikit ngamuk. Kenapa? Karena dia sudah capek mengolah emosi jadi tulisan yang enak dibaca.
Kedua, soal siapa yang mau baca. Hei, hei siapa dia. Jangan sok tahu Mas Bro! Penulis itu ibarat petani di sawah. Tugas utamanya ya menanam. Perkara siapa yang bakal panen atau siapa yang bakal kenyang makan hasilnya, itu urusan Tuhan. Bisa jadi tulisan kita hari ini cuma dibaca satu orang, tapi ternyata orang itu lagi puyeng mau bunuh diri dan tulisan kita jadi “rem” buat dia. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar dapat like ribuan di medsos tapi isinya sampah semua.
Ketiga, soal perubahan. Jangan mimpi jadi pahlawan kesiangan yang mau bikin revolusi lewat satu status Facebook. Perubahan itu dicicil, Bung! Tulisan kita mungkin nggak bakal bikin presiden ganti kebijakan, tapi kalau bisa bikin satu orang pembaca nambah wawasannya sedikit saja, itu sudah prestasi luar biasa.
Ingat pepatah kuno: gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Lah kalau Anda mati, mau ninggalin apa? Cicilan motor yang belum lunas?
Kalau Anda masih merasa menulis itu beban, ya sudah, berarti Anda memang cocok untuk jadi fosil: ada wujudnya, tapi bisu. Cuma jadi pajangan yang enggak punya suara apalagi makna.
Sudah, jangan banyak alasan. Ambil pulpen atau buka laptop sekarang. Jangan sampai isi kepala anda membusuk karena kelamaan dipendam, padahal bisa jadi inspirasi buat orang lain.