Jangan Jadi Anomali

Aku selalu percaya hidup adalah soal manajemen ekspektasi, seperti menyeduh kopi yang tak boleh terlalu lama terkena air mendidih. Namun, akhir-akhir ini, semesta seolah sedang mengalami gangguan transmisi.

Tadi siang, aku berdiri mematung di depan etalase warung Nasi Padang. Sepotong rendang di sana tampak seperti artefak sejarah yang harganya baru saja melonjak gila-gilaan.

“Naik lagi, Da?” tanyaku, menunjuk papan menu yang coretannya masih basah.

Uda pemilik warung mengelap meja dengan kasar, napasnya berat. “Pajak bahan pokok naik, sewa lapak naik. Kalau saya tak naikkan harga, besok anak saya makan batu, Mas,” sahutnya tanpa menoleh. “Pemerintah mikir kita ini mesin cetak uang, apa?”

Aku tersenyum getir, memesan porsi paling hemat lalu berjalan pulang.

Di tengah kota, langkahku terhenti. Sebuah jalan amblas menganga lebar, dikelilingi garis kuning yang sudah kusam.

“Woi, hati-hati!” teriak seorang tukang ojek yang sedang mangkal di dekat lubang.

Aku menepi, menghampirinya. “Sudah seminggu begini, ya, Pak?”

“Seminggu?” Si Bapak tertawa kering. “Hampir sebulan. Orang-orang dinas itu cuma datang lalu foto-foto pakai seragam necis, habis itu hilang. Katanya sih anggarannya ‘masih diproses’. Padahal tadi pagi ada mobil mewah lewat sini, pelatnya khusus, ya cuma lewat saja melompati genangan. Debunya kena muka kami, Mas.”

Aku menatap lubang itu. Aku teringat hukum termodinamika tentang entropi: derajat ketidakteraturan yang akan selalu meningkat. Di depanku, entropi itu nyata dalam rupa aspal yang terkelupas dan debu yang mengepung paru-paru.

Malamnya, keresahan itu memuncak. Aku mengetikkan sesuatu di laman media sosial tentang jalan rusak dan harga nasi. Tak lama, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari kawan lamaku yang kini bekerja di lingkaran “orang dalam”.

“Hapus postinganmu,” tulisnya singkat.

Aku membalas cepat, “Kenapa? Aku cuma bicara fakta.”

“Logika sudah dibalik, kawan,” balasnya lagi.

“Sekarang, mengeluh soal perut lapar bisa dianggap provokasi. Menjadi warga negara yang baik itu cukup diam dan bayar pajak. Jangan jadi anomali.”

Aku terdiam. Kritik kini memang menjadi virus yang harus dikarantina. Aku mematikan ponsel, berjalan keluar rumah, dan duduk di tepi jalan yang tak kalah mengenaskan dengan jalan di tengah kota tadi, berlubang dan tergenang air berwarna cokelat.

Seorang anak kecil lewat menjajakan koran sisa sore tadi. “Koran, Om? Berita hangat, pembelian mobil dinas mewah pimpinan daerah, Om”

Aku menggeleng pelan. “Tidak, Dek. Simpan saja buat bungkus nasi.”