Wahai engkau,
lelaki penatah takdirku, yang menyulam hari dengan tangan letih,
terima kasih kupanjatkan diam-diam pada setiap langkahmu yang tak pernah beralih.
Engkau menjadikan payah sebagai bahasa cinta,
peluhmu mahar yang tak pernah ditagih,
demi aku, wanita yang kau titipkan di antara sabarmu dan doa yang tak selesai.
Saat dunia meruncingkan durinya padamu,
engkau pilih berdiri, tak gentar, tak surut,
sebab namaku kau jaga di dadamu, sebagai alasan untuk tetap hidup dan luruh.
Cintamu bukan puji yang gemar diumbar, melainkan kerja sunyi yang setia bernyala,
engkau runtuhkan egomu sendiri, agar aku tumbuh dalam aman dan percaya.
